PALANGKARAYA – Tren angka kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dari 2014 hingga tahun 2025, cenderung mengalami penurunan. Namun jika dilihat sejak munculnya pandemi hingga sekarang, jumlah penduduk miskin di Kalteng cukup fluktuatif.
Setelah tahun 2020, jumlah penduduk miskin mencapai angka terendah di tahun 2021, namun kembali meningkat di tahun 2022, menurun di tahun 2023, dan akhirnya kembali meningkat hingga tahun 2025 yaitu sejumlah 147,8 ribu jiwa. Apabila dilihat secara umum pada Provinsi Kalteng, kemiskinan pada tahun 2025 mengalami peningkatan 5,17 persen dibanding tahun 2024.
Selain persentase penduduk miskin yang meningkat menjadi 5,19 persen, indeks kedalaman kemiskinan kemiskinan Kalteng juga meningkat. Indeks kedalaman kemiskinan meningkat dari 0,78 menjadi 0,83, sementara indeks keparahan kemiskinan stabil pada angka 0,19.
Garis kemiskinan pada tahun 2025 mengalami peningkatan yaitu dari Rp623.954menjadi Rp654.066. Seseorang disebut jika memiliki penghasilan Rp654.066 per bulan. Peningkatan garis kemiskinan terjadi di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini juga dipengaruhi oleh inflasi yang terus terjadi pada harga-harga kebutuhan pokok baik makanan maupun non makanan.
Meskipun secara keseluruhan Provinsi Kalteng mengalami peningkatan kemiskinan, tidak semua kabupaten/kota mengalami hal yang sama. Dilihat dari jumlah penduduk miskinnya, Kabupaten Sukamara, Seruyan, Gunung Mas, Barito Timur dan Murung Raya justru mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2024. Pada 2025, jumlah penduduk miskin terendah adalah di Kabupaten Sukamara sejumlah 2,87 ribu jiwa.
Kabupaten/kota dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Kalimantan Tengah adalah Kotawaringin Timur 27,7 ribu jiwa atau sebesar 5,83 persen dari total penduduknya. Disusul dengan Kabupaten Kapuas dengan jumlah penduduk miskin 20,43 ribu jiwa atau 5,48 persen dari total penduduk. Kedua kabupaten ini merupakan kabupaten yang berpengaruh besar bagi Kalimantan Tengah dilihat dari wilayahnya yang strategis dan jumlah penduduk yang besar.
Namun berdasakan persentase, penduduk miskin tertinggi adalah di Kabupaten Seruyan sebesar 6,72 persen, kemudian disusul Murung Raya 6,19 persen, dan Barito Timur 6,10 persen. Tiga kabupaten ini cenderung menjadi juara bertahan dengan persentasi penduduk miskin tertinggi.
Pada tahun 2024, Seruyan mencatat persentasi penduduk paling tinggi yakni 7,08 persen, disusul Barito Timur 6,66 persen, dan Murung Raya 6,58 persen. Namun demikian, ketiga kabupaten itu berhasil menurunkan persentasi jumlah penduduk miskin di tahun 2025.
Untuk garis kemiskinan, sebagai dasar klasifikasi penduduk miskin, serempak meningkat di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah. Apabila dilihat per kabupaten/kota, Kabupaten Sukamara memiliki nilai garis kemiskinan yang paling tinggi yaitu Rp 704.449.
Sementara untuk indeks kedalaman kemiskinan, tiga kabupaten dengan nilai tertinggi adalah Kabupaten Murung Raya, Barito Timur, dan Kotawaringin Timur masing-masing sebesar 1,16 , 1,16 dan 1,00. Sementara indeks keparahan kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Murung Raya dan Barito Timur masing-masing sebesar 0,34 dan 0,32.
Data ini disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng dalam rilis Peta Tematik Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah 2014–2025, yang diluncurkan melalui laman resminya pada Senin (16/3/2026). (VK1)


