By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Vox KaltengVox KaltengVox Kalteng
  • Beranda
  • Kalteng
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Palangkaraya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Religi
  • Showbiz
Reading: Dari World Marriage Day Palangkaraya 2025: Hanya Kamu Terakhir yang Kucinta
Share
Vox KaltengVox Kalteng
  • Beranda
  • Kalteng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Religi
  • Showbiz
Search
  • Beranda
  • Kalteng
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Palangkaraya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Religi
  • Showbiz
Follow US
Beranda » Kalteng » Palangkaraya » Dari World Marriage Day Palangkaraya 2025: Hanya Kamu Terakhir yang Kucinta

Dari World Marriage Day Palangkaraya 2025: Hanya Kamu Terakhir yang Kucinta

9 Februari 2025
Share
Potret peringatan Hari Perkawinan Sedunia yang digelar Gereja Katolik Paroki Katedral Palangkaraya, Minggu (9/2/2025).
SHARE

Sekian lama kita bersama, Di antara kita banyak peristiwa, Sering aku tak mengerti, Perasaanku padamu

Mungkinkah ini tandanya cinta? Ataukah perasaanku saja? Kini kusadari, Yang sungguh terjadi.

 Ternyata aku makin cinta, Cinta sama kamu, Hanya kamu seorang, kasih.

Ku tak mau yang lain, Hanya sama kamu, Kamu yang terakhir kucinta

….

Tembang lawas berjudul “Aku Makin Cinta” mengalun lembut di dalam Gedung Serba Guna (GSG) Tjilik Riwut Kompleks Gereja Katedral Palangkaraya, Minggu (9/2/2025) siang. Puluhan pasangan suami istri (pasutri) saling menatap mesra.

Satu per satu dari para suami mengeluarkan setangkai mawar dari balik baju, lalu memberikan kepada istrinya. “…aku makin cinta, cinta sama kamu,”.  Hadiah para suami ini disambut pelukan hangat istri. Mereka pun bernyanyi bersama, saling berpeluk mesra,  menangis bahagia dan haru. Suasana dalam ruangan itu begitu romantis.

Cuaca di luar gedung sangat cerah. Mentari di langit Kota Palangkaraya bersinar tanpa dihalangi awan. Begitu pula di dalam ruangan GSG, sinar bahagia memancar dari wajah para pasutri.

Ini adalah sesi puncak dalam acara peringatan Hari Perkawinan Sedunia (World Marriage Day) tahun 2025, yang digelar Gereja Katolik Paroki Katedral Santa Maria Palangkaraya. Romo Yohanes Lulus Widodo yang memandu para pasutri, sengaja memilih lagu karya ciptaan Gregorius Younky Soewarno yang dipopulerkan artis Vina Panduwinata tahun 1996 itu, untuk membangkitkan kembali romansa masa muda para pasutri. Kemesraan yang mungkin mulai berkurang seiring waktu berjalan, kembali dikobarkan.

Di bawah koordinasi Seksi Kerasulan Keluarga Dewan Pastoral Paroki (DPP) Katedral, peringatan World Marriage Day di paroki Katedral dihadiri ratusan pasutri. Acara diawali misa kudus di Gereja Katedral, pukul 07.00 WIB. Lalu dilanjutkan bincang-bincang keluarga di gedung GSG Tjilik Riwut. Dalam bincang-bincang ini, panitia menghadirkan Romo Yohanes Lulus Widodo, salah satu Pastor Katolik, sebagai pemateri.

Pada peringatan Hari Perkawinan Sedunia tahun ini, Komisi Keluarga Kongregasi Waligereja Indonesia (KWI) mengangkat tema “Pernikahan: Sumber Harapan, Mata Air Pembaruan, Kejarlah Cinta Abadi”.

Gereja Katolik mendedikasikan Hari Perkawinan Sedunia sebagai apresiasi bagi pasutri yang tetap setiap sehidup semati, di tengah arus modernisasi yang menganggap monogami sebagai pandangan yang kuno. Gereja berpegang teguh pada ajaran Yesus Kristus sang guru agung, yang menegaskan bahwa pernikahan itu kekal, tak terpisahkan kecuali maut. “Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” demikain pesan Kristus yang tertulis dalam injil Matius 19:6.

“Meski badai melanda, tetaplah setia dengan pasanganmu. Mungkin dia tak lagi cantik, tak lagi ganteng seperti dulu, namun dia mencintaimu dengan tulus, dia yang Tuhan berikan untukmu,” pesan Romo Lulus yang memberikan materi “Keluargaku persemaian harapan, iman, pengampunan dan benih cinta”.

Romo Lulus membawakan materi dengan sangat apik, sekali-sekali memberikan ilustrasi melalui atraksi sulap. Misalnya saat sulap mengubah warna tongkat.  Ia memakai kaca mata hitam, memegang tongkat berwarna hitam. Namun ketika berbalik badan lalu melepas kaca mata, tongkat itu berubah menjadi berbagai warna-warni. Ini menggambar saat suami atau istri serring melihat pasangannya dari satu sisi, hanya kekurangannya saja. Di sini ia tak menyadari betapa banyak kelebihan yang dimiliki pasangannya. Keindahan dari pasangannya tertutup kaca mata hitam. Romo Lulus mengajak para pasutri melepas kaca mata hitam, menanggalkan ego.

Begitu juga rumah tangga diibaratkan dalam atraksi sulap kipas tangan berlipat sambung. Jika dipegang dengan benar, kipas bisa mengembang saat dibuka, dan bisa dipakai untuk mengipas. Namun jika salah dipegang, maka kipas bukan mengembang, melainkan akan terpisah. Rumah tangga yang salah kelola bisa berujung perceraian. Ini ketika pasutri masing-masing bertahan dalam egonya. Merasa diri yang paling baik, paling benar.

Romo Lulus mengajak pasutri untuk melihat keindahan perkawinan, menghormati pasangan, menghargai kesetiaan dan pengorbanannya. Romo juga memberikan tips bagaimana membangun relasi dalam keluarga. Di antaranya membangun komunikasi yang baik, saling pengertian, saling percaya dan menghormati satu sama lain.

Pasutri juga harus bisa berbagi tanggung jawab, mengelola konflik dengan bijak, terus belajar bersabar. Dan satu hal yang harus diingat bahwa perkawinan itu adalah ibadah.

Dalam acara bincang-bincang ini, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Palangkaraya Yosep Maria Sahdan Ruslan bersama istrinya, Irly Yulia, berkesempatan memberikan kesaksian bagaimana membangun rumah tangga mereka. Mereka selalu mengandalkan pertolongan Tuhan dalam perjalanan rumah tangga.

Demikian juga saat-saat menghadapi masa sulit, ketika Yosep Ruslan divonis menderita gagal ginjal. Ia divonis akan berumur pendek karena penyakit itu. Namun karena pertolongan Tuhan, Yosep berhasil sembuh total. Bahkan tiga orang anaknya sukses dalam karirnya masing-masing. Yosep Ruslan menjadi seorang pengusaha sukses, demikian juga Irly Yulia yang berkarir sebagai ASN. Sebelum pensiun, Irly menjabat Wakil Direktur di RSUD Doris Sylvanus Palangkaraya.

Kini kedua pasutri itu aktif dalam berbagai kegiatan kerasulan keluarga. Berbagai kegiatan yang dibawah tanggungjawab Komisi Keluarga, berhasil digelar dengan sukses. Begitu juga pada peringatan World Marriage Day tahun ini. “Karena Tuhan telah memberikan berkat yang luar biasa dalam keluarga kami, maka kami pun ingin menjadikan hidup sebagai saluran berkat bagi sesama,” kata Yosep Ruslan.

Acara peringatan World Marriage Day pada Minggu siang itu, berakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Para pasutri pulang dengan bahagia, setelah disegarkan dalam kegiatan itu. Sebagaimana penggalan lirik …   Ku tak mau yang lain, Hanya sama kamu, Kamu yang terakhir kucinta… para pasutri diharapkan terus bertahan dalam cintanya, hingga perjalanan hidup di dunia tiba pada garis finish. Semoga. (VK1)

Polisi Tangkap 6 Remaja Balapan Liar di Jalan Murjani
Begini Respons Kepala Disdik Palangkaraya Terkait Kejadian di SDN 3 Tanjung Pinang
Polresta Palangkaraya Tingkatkan Pengamanan Bandara Tjilik Tiwut
Kebakaran di Palangkaraya Jumat Subuh, Rumah dan Barak 4 Pintu Ludes, Diduga Gegara Listrik
Flamboyan Bawah Kembali Membara, Puluhan Rumah Ludes
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Vox KaltengVox Kalteng
© Vox Kalteng 2023. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Masuk ke Akun Admin

Username or Email Address
Password

Lost your password?