PALANGKARAYA – Produksi padi dan jagung di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami peningkatan pada tahun 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng mencatat, produksi padi pada 2024 sebanyak 366,15 ribu ton gabah kering giling (GKG), mengalami peningkatan sebanyak 35,37 ribu ton atau 10,69 persen dibandingkan produksi padi di tahun 2023 yang sebanyak 330,78 ribu ton GKG.
Produksi beras pada 2024 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 217,50 ribu ton, mengalami peningkatan sebanyak 21,01 ribu ton atau 10,69 persen dibandingkan produksi beras di 2023 yang sebanyak 196,49 ribu ton. Sementara, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2024 sebanyak 44,64 ribu ton.
“Jumlah ini mengalami kenaikan sebanyak 19,16 ribu ton atau 75,17 persen dibandingkan pada 2023 yang sebanyak 25,48 ribu ton,” kata Kepala BPS Provinsi Kalteng Agnes Widiastuti dalam rilis BPS yang diluncurkan pada Senin (3/3/2025).
Dijelaskan, peningkatan produksi padi dan jagung berbanding lurus dengan peningkatan luas panen. Tahun 2024, tercatat luas panen padi mencapai 111,02 ribu hektare. Luasan ini meningkat 9,44 ribu hektare atau 9,29 persen dibandingkan luas panen padi di 2023 yang sebesar 101,58 ribu hektare.
Di tahun yang sama, luas panen jagung pipilan juga mengalami peningkatan, mencapai 8,56 ribu hekctare. Dibandingkan luas panen pada 2023 yang sebesar 5,94 ribu hektare, mengalami kenaikan sebesar 2,62 ribu hektare atau 44,14 persen. “Potensi luas panen jagung pipilan kering periode Januari–April 2025 diperkirakan mencapai 3,05 ribu hektare, dengan potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sebanyak 12,74 ribu ton,” kata Agnes.
Di sisi lain, peningkatan produksi padi dan jagung di Kalteng tahun 2024 tidak memberikan dampak bagi harga beras di pasaran. Harga beras lokal seperti hibrida dan siam justru terus mengalami peningkatan dalam setahun terakhir.
Pantauan di Kota Palangkaraya, ibukota Provinsi Kalteng, Selasa (4/3/2025), harga beras hibrida hasil panen petani dari Pangkoh, Pulang Pisau, dijual seharga Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram. Harga ini naik dibanding awal tahun 2024 yang tercatat masih Rp 12.000 per kilogram. Sementara harga beras siam unus dari Kuala Kapuas dijual hingga Rp 25.000/kg. BPS Kalteng dalam rilis pada Senin (3/3/2025), mencatat kenaikan harga beras sebagai salah satu pemicu inflasi di Kalteng.
Panjangnya mata rantai pemasaran dianggap sebagai pemicu mahalnya harga beras di tingkat pengecer. Sementara upaya pemerintah daerah bersama Badan Urusan Logistik (Bulog) menekan harga melalui operasi pasar murah, belum memberikan dampak signifikan terhadap laju kenaikan harga beras. (VK1)


