PULANG PISAU – HIV AIDS menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Konon belum ada obat yang bisa menyembuhkan jika terjangkit HIV AIDS. Di sisi lain, angka kasus HIV AIDS cenderung mengalami kenaikan, termasuk di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, tahun 2022 lalu ada 337 kasus. Sementara tahun 2023, dari Januari hingga Juni saja tercatat ada temuan 221 kasus baru.
Di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) angka kasus HIV AIDS tergolong kecil. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pulpis dr Pande Putu Gina mengatakan, tahun 2023 ini ada temuan kasus baru sebanyak 8 kasus, naik dibanding tahun 2022 sebanyak 5 kasus.
Sayangnya, meski tergolong sedikit, namun HIV AIDS di Pulang Pisau menjangkiti hingga anak-anak. Dari temuan 8 kasus baru di tahun ini, ada 2 orang yang masih anak-anak.
“Selalu ada kenaikan kasus setiap tahun, meski jumlahnya tidak banyak,” kata Pande saat diwawancarai voxkalteng.com, Selasa (5/12/2023). Upaya yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Pulpis, kata Pande, melakukan skrining tes darah yang dilakukan di titik – titik resiko tinggi penularan HIV dan AIDS.
Skrining darah ini juga bukan hanya dilakukan di titik yang dianggap resiko tinggi, tapi juga dilakukan kepada orang terdekat yang sudah positif HIV seperti istri dan anak.
Jika ditemukan positif, maka langsung dilakukan pendampingan oleh Dinas Kesehatan untuk mendapatkan pengobatan ARV di RSUD Dr Doris Sylvanus di Palangkaraya, karena di Pulpis belum tersedia.
Penanganan kasus ini, lanjut Pande, penting dilakukan melalui sinergi dengan lembaga atau NGO yang memiliki kepedulian dalam penanganan HIV dan AIDS untuk melakukan pendampingan kepada orang ODHA (orang dengan HIV AIDS).
Kepala Bilang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Pulpis dr H Jamil Muslim menyampaikan, pihaknya sudah melakukan edukasi dan sosialisasi serta skrining darah, di tempat-tempat tempat beresiko tinggi. Ini dilakukan untuk menekan tingginya kasus HIV di Pulang Pisau.  (MWF)


