PALANGKARAYA – Nilai ekspor Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Januari 2026 mencapai US$257,07 juta (Rp4,34 triliun) atau turun 13,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Komoditas utama ekspor Kalteng selama Januari 2026, antara lain batu bara, minyak kelapa sawit, lignit, kayu olahan, karet remah, bijih zirconium, niobium, dan tantalum, bungkil dan residu, serta kayu lapis.
Demikian data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng yang dirilis pada Senin (2/3/2026). BPS menyebutkan sejumlah negara seperti Jepang, India, dan Korea Selatan menjadi negara tujuan utama ekspor Kalteng selama Januari 2026. Seluruh ekspor Kalteng selama Januari 2026 merupakan komoditas non migas dengan nilai mencapai US$257,07 juta (Rp4,34 triliun) atau mengalami penurunan sebesar US$40,33 juta (turun 13,56 persen) dibanding periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$297,40 juta (Rp5,01 trilun).
Sementara total volume ekspor Kalteng pada Januari 2026 mengalami penurunan sebesar 1,84 persen dibanding Januari 2025. Nilai ekspor hasil industri pengolahan Kalimantan Tengah pada Januari 2026 mencapai US$44,68 juta (Rp753,3 Miliar) dan memberi kontribusi sebesar 17,38 persen terhadap total nilai ekspor. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025, ekspor hasil industri mengalami penurunan senilai US$14,57 juta (Rp245,79 miliar) atau turun sebesar 24,59 persen.
Komoditas utama eksporhasil industri pengolahan Kalimantan Tengah selama Januari 2026 di antaranya minyak kelapa sawit, kayu olahan, karet remah, bungkil dan residu, kayu lapis, dan veneer.
Sementara itu, nilai ekspor hasil tambang yang memiliki kontribusi paling besar pada Januari 2026 tercatat sebesar US$212,39 juta (Rp3,58 triliun) atau berkontribusi 82,62 persen terhadap total nilai ekspor Kalteng. Dibandingkan Januari 2025, nilai tersebut turun US$23,78 juta atau Rp401 miliar (10,07 persen) dari US$236,17 juta (Rp3,98 triliun).
Komoditas utama ekspor hasil tambang pada periode ini meliputi batu bara, lignit, bijih zirconium, niobium dan tantalum, serta zirconium silikat.
Jika dibandingkan dengan bulan Desember 2025 (month to month), secara umum nilai ekspor Kalimantan Tengah mengalami penurunan sebesar US$130,72 juta (turun 33,71 persen). Penurunan nilai ekspor tertinggi terjadi pada kelompok bahan bakar mineral senilai US$63,56 juta (turun 23,29 persen), diikuti oleh kelompok lemak & minyak hewani/nabati senilai US$56,96 juta (turun 62,66 persen).
Negara tujuan utama ekspor Kalteng pada Januari 2026 adalah Jepang, India, dan Korea Selatan. Nilai ekspor ke Jepang tercatat sebesar US$82,82 juta (32,22 persen dari total ekspor), diikuti India US$57,62 juta (22,41 persen), dan Korea Selatan US$34,32 juta (13,35 persen). Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi penurunan nilai ekspor ke sejumlah negara tujuan, yaitu Korea Selatan, Philipina, Tiongkok, dan berbagai negara lainnya.
Ekspor ke Korea Selatan mengalami penurunan nilai terbesar, yakni US$34,15 juta (turun 49,88 persen), diikuti Philipina dengan penurunan nilai sebesar US$5,55 juta (turun 49,69 persen), dan Tiongkok dengan penurunan nilai sebesar US$3,34 juta (turun sebesar 12,70 persen). Sementara itu, ekspor ke Vietnam mengalami peningkatan terbesar yaitu sebesar US$11,59 juta (naik 982,20 persen).
Pelabuhan di Kalteng Belum Jadi Pilihan Utama
Dari segi layanan transportasi ekspor melalui pelabuhan, Kalteng belum menjadi pilihan utama. Ini terlihat dari data ekspor melalui Pelabuhan di Kalteng hanya melayani 15,98 persen atau US$41,09 juta (Rp657,440 miliar) dari total ekspor Kalteng.
Selebihnya, 84,02 persen ekspor Kalteng melalui pelabuhan di Kalimantan Selatan (Kalsel), yakni Pelabuhan Banjarmasin dan Kotabaru.
Sementara, nilai impor Kalteng selama Januari 2026 mencapai US$0,32 juta, juga turun 92,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Komoditas utama impor Kalteng pada Januari 2026 meliputi mesin ekstraksi dan mesin pencampur. Komoditas impor Kalteng selama Januari 2026 berasal dari Malaysia dan Tiongkok. Dari data ini, BPS menyimpulkan neraca perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar US$256,75 juta (Rp4,33 triliun). (VK1)


