PALANGKARAYA – Beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri 1447 H, harga plastik di Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalten), mengalami kenaikan cukup tajam. Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan ini.
Indu Adit, salah satu pedagang sayuran di Jalan Adonis Samad, mengatakan kenaikan harga plastik mencapai 30 persen. Kenaikan hampir merata pada setiap ukuran plastik. Plastik tanggung misalnya, sebelumnya biasa dia beli Rp35 ribu per satu pak isi 10 bungkus, kini naik menjadi Rp46 ribu. Kenaikan hingga Rp11 ribu per satu pak.
“Aduh, pusing jualan, semua serba naik. Plastik juga sekarang malah ikut naik, maka naiknya banyak sekali,” kata Indu Adit, Selasa (17/3/2026). Salah satu pedagang toko plastik di Pasar Besar Palangkaraya, mengatakan kenaikan harga plastik akibat perang Iran melawan Israel. “Gara-gara perang itu, harga plastik ikut naik. Nanti kalau harga minyak (BBM) naik, plastik bisa lebih mahal lagi,” keluhnya.
Pantauan voxkalteng.com, kenaikan harga plastik hampir merata di seluruh Indonesia. Di ibukota Jakarta, kenaikan harga plastic mencapai 35 persen. Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono, kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/3/2026), mengatakan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah akibat perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai memberikan tekanan serius terhadap berbagai sektor industri, termasuk industri plastik yang sangat bergantung pada komoditas minyak mentah dan produk petrokimia.
Fajar mengungkapkan tingkat utilisasi industri hilir petrokimia saat ini masih berada di kisaran 70%. Utilisasi tersebut relatif terjaga karena pelaku industri masih berupaya memenuhi permintaan pasar menjelang akhir Ramadan hingga sekitar satu pekan setelah Idul Fitri. Fajar memperkirakan gangguan yang lebih besar justru baru akan terasa pada pekan kedua atau sekitar H+10 setelah Idulfitri.
Menurut Fajar, konflik di Timur Tengah telah mengganggu industri petrokimia global yang menjadi sumber bahan baku utama bagi industri plastik. Sejumlah produsen kini semakin selektif dalam menerima kontrak baru karena harus menyesuaikan dengan ketersediaan pasokan bahan baku.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Untuk beberapa jenis seperti polypropylene dan polyethylene, porsi impor bahkan mencapai lebih dari 50%. Lebih dari separuh kebutuhan impor tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah. Akibatnya, gangguan produksi dan kondisi force majeure di sejumlah pabrik petrokimia di wilayah tersebut langsung berdampak pada rantai pasok global. (VK1)


