PALANGKARAYA – Kisah Orang utan bernama Timtom dari Kalimantan Tengah (Kalteng), viral di linimasa karena aksinya yang unik saat pulang ‘Sekolah Hutan’ dijemput pakai perahu.
Mengutip Detik Kalimantan, Sabtu (28/2/2026), Timtom ditemukan di lingkungan masyarakat di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) pada tahun 2016.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng kemudian mengirim Timtom masuk program soft release sejak Januari 2016. Kala itu ia masih berumur 6 bulan. Sekarang Timtom sudah berumur 10,5 tahun.
Timtom menjalani soft release di Camp Buluh, Suaka Margasatwa Lamandau, Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Di sana, ia menjalani ‘Sekolah Hutan’ mulai dari belajar memanjat, bergelantung, membuat sarang, hingga belajar memilih makanan alami di hutan. Kini, Timtom masih dalam proses rehabilitasi sebelum akhirnya dilepasliarkan.
Kepala BKSDA Kalteng Andi Muhammad Khadafi menerangkan, Timtom satu minggu sekali dibiasakan bermain ke hutan depan camp hingga berhari-hari. Di sinilah momen Timtom diantar jemput menggunakan perahu.
“Seminggu sekali Timtom dibawa ke hutan seberang sungai depan camp dan dibiarkan bermain sendiri selama 3 sampai 4 hari,” kata Andi.
Andi menjelaskan, perkembangan Timtom dalam memanjat pohon dan mencari makan sudah bagus. Namun kemampuannya membuat sarang masih perlu ditingkatkan.”Kemampuan memanjat pohon dan mencari makan sudah bagus.
Tetapi Tintom jarang membuat sarang dan hanya menggunakan sarang lama bekas orangutan lain untuk digunakan berulang-ulang saat tidur malam hari,” ungkapnya.
Andi menjelaskan lamanya proses rehabilitasi atau ‘sekolah hutan’ tergantung dari bagaimana respon individu orangutan saat ditemukan. Orangutan yang terbiasa hidup sebagai hewan peliharaan, maka dibutuhkan pemulihan yang lebih ekstra.
“Biasanya dilihat dari respon orangutannya. Saya pernah dapat cerita ada orangutan yang gak mau tidur sebelum nonton sinetron dulu,” ungkapnya.Selain itu, tingkatan dalam merehabilitasi juga berbeda-beda.
Hal ini karena usia orangutan saat ditemukan atau saat serah terima dari masyarakat tidak seumuran. Semakin tua usianya, maka proses pemulihan insting liarnya bisa semakin lama.Andi menjelaskan, jika skill membuat sarangnya sudah bagus, maka Timtom akan menjadi kandidat selanjutnya untuk dilepasliarkan.”Jika nanti skill membuat sarangnya sudah bagus, Tintom bisa dijadikan kandidat untuk dilepasliarkan selanjutnya,” pungkasnya. (VK1)


