By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Vox KaltengVox KaltengVox Kalteng
  • Beranda
  • Kalteng
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Palangkaraya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Religi
  • Showbiz
Reading: Kopi Bisa Bantu Kendalikan Kadar Gula Darah, Menurut Hasil Penelitian Terbaru
Share
Vox KaltengVox Kalteng
  • Beranda
  • Kalteng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Religi
  • Showbiz
Search
  • Beranda
  • Kalteng
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Palangkaraya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Religi
  • Showbiz
Follow US
Beranda » Showbiz » Kopi Bisa Bantu Kendalikan Kadar Gula Darah, Menurut Hasil Penelitian Terbaru

Kopi Bisa Bantu Kendalikan Kadar Gula Darah, Menurut Hasil Penelitian Terbaru

20 Januari 2026
Share
SHARE

JAKARTA – Sebuah penelitian di China menemukan jika kopi dapat membantu mengendalikan kadar gula darah. Kopi sangrai yang dikenal sebagai minuman penambah energi, kini disebut berpotensi membantu mengendalikan kadar gula darah. Peneliti menemukan senyawa baru dalam kopi yang pada uji laboratorium bekerja lebih kuat dibanding obat diabetes tipe 2 yang umum digunakan.

Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Beverage Plant Research.  Penelitian tersebut dipimpin oleh Minghua Qiu dari Kunming Institute of Botany, Chinese Academy of Sciences, yang meneliti biji kopi Coffea arabica yang telah disangrai.

Hasilnya, tim peneliti menemukan enam senyawa baru, dengan tiga di antaranya menunjukkan aktivitas paling kuat dalam menghambat enzim α-glukosidase. Enzim ini berperan penting dalam memecah karbohidrat saat proses pencernaan, sehingga memengaruhi seberapa cepat gula masuk ke aliran darah.

Tiga senyawa utama tersebut diberi nama caffaldehydes A, B, dan C. Dalam uji laboratorium, ketiganya mampu menghambat kerja α-glukosidase dengan nilai IC?? antara 17,50 hingga 45,07 mikromolar. Angka ini dinilai lebih kuat dibanding acarbose, obat diabetes tipe 2 yang digunakan sebagai pembanding dalam penelitian tersebut.

“Semakin kecil nilai IC??, semakin kuat kemampuan senyawa tersebut dalam menghambat enzim,” tulis laporan HealthDay yang dikutip dari Drugs.com.

Untuk menemukan senyawa-senyawa ini, peneliti menggunakan kombinasi teknologi nuclear magnetic resonance (NMR) dan liquid chromatography–mass spectrometry (LC-MS/MS). Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi senyawa aktif meski hanya terdapat dalam jumlah sangat kecil di dalam kopi sangrai. Pendekatan tersebut juga dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan dibanding metode penelitian sebelumnya.

Menurut Minghua Qiu, temuan ini membuka peluang pengembangan kopi sebagai pangan fungsional, yakni makanan atau minuman yang tidak hanya memberi nutrisi dasar, tetapi juga mendukung kesehatan. “Penelitian ini menunjukkan bahwa kopi mengandung molekul bioaktif yang berpotensi membantu pengendalian gula darah,” ujarnya, seperti dikutip dari Science Daily.

Namun, ia menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal dan belum bisa langsung diterapkan pada manusia. Para peneliti menekankan bahwa temuan ini tidak berarti kopi bisa menggantikan obat diabetes. Uji yang dilakukan masih sebatas laboratorium, sehingga diperlukan penelitian lanjutan pada hewan dan manusia untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya.

“Langkah berikutnya adalah menguji apakah senyawa ini aman dan bekerja efektif di dalam tubuh manusia,” tulis laporan tersebut. Meski temuan ini menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa pengelolaan diabetes tipe 2 tetap membutuhkan pendekatan menyeluruh.

Pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, dan pengobatan sesuai anjuran dokter tetap menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyakit ini. Kopi, dalam konteks ini, berpotensi menjadi bagian pendukung, bukan solusi tunggal. (net/VK1)

Pemerintah Serawak Malaysia Akan Gratiskan Biaya Kuliah, Mahasiswa Diberi Uang Saku Rp4 Juta Per Bulan
Jalin Hubungan Palsu dengan Pembantu agar Rujuk dengan Istri, Pria Ini Tewas Mengenaskan
Tren Lemak Sapi Dijadikan Skincare, Begini Dampak Positif dan Negatif Menurut Dokter
Wow! Wanita Ini Setiap Hari Pulang Pergi Naik Pesawat ke Tempat Kerja
Penelitian Universitas Toronto Ungkap Orang Kaya atau Miskin dari Ekspresi Wajah
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Vox KaltengVox Kalteng
© Vox Kalteng 2023. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Masuk ke Akun Admin

Username or Email Address
Password

Lost your password?