PANGKALAN BUN – Entah setan apa yang merasuki MSF. Pemuda itu datang jauh-jauh dari Semarang, Jawa Tengah (Jateng), ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng), untuk bunuh ibu kandungnya, WT (47).
MFS adalah warga Desa Pandu Senjaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat, yang sedang kuliah di Semarang, Jawa Tengah.
Kapolres Kotawaringin Barat AKBP Bayu Wicaksono melalui Kapolsek Pangkalan Lada AKP Agoes mengatakan, MSF terbang dari Semarang ke Pangkalan Bun menggunakan pesawat Nam Air, Jumat (17/11/2023) pagi sekitar pukul 09.00 WIB.
Tiba di Pangkalan Bun, pemuda itu tak langsung pulang ke rumah. Dia tinggal nginap di salah satu tempat ibadah di kota itu. Minggu (19/11/2023, MSF naik travel mendatangi orangtuanya di Jalan Ahmad Yani Km40 RT 21 Desa Pandu Jaya.
Tiba Minggu sore, MSF tak langsung masuk rumah. Dia bersembunyi di belakang rumahnya. Padahal orangtuanya di dalam rumah. Ayahnya menderita tuna netra, tak bisa melihat. Menjelang magrib baru MSF masuk rumah. Sempat berbicara sebentar dengan ibunya, pemuda yang sedang menempuh pendidikan untuk gelar sarjana itu langsung melancarkan niat jahatnya.
Dia memukul ibunya lalu menggorok leher wanita yang telah dengan susah payah membesarkan dan memberikan pendidikan untuk putranya. Ibunya menafkahi mereka dengan berjualan pakaian, sebab ayahnya tak bisa bekerja. “Setelah menggorok leher ibunya hingga tewas, pelaku mengunci diri dalam kamar,” kata AKP Agoes, Senin (20/11/2023).
Pelaku menyerahkan diri ke Polsek Pangkalan Lada pada Senin. Kepada polisi, dia mengaku sakit hati karena sering dimarahi ibunya. Polisi kemudian mendatangi TKP dan mengevakuasi jenazah korban. Melakukan olah TKP dan memasang garis polisi.
Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Tersangka kini ditahan di sel Mapolsek Pangkalan Lada untuk diproses hukum. Pembunuhan itu menghebohkan warga Pangkalan Lada.
Sejumlah warga tak menyangka MSF tega berbuat jahat terhadap orangtuanya sendiri. Apalagi ibunya yang selama ini berdagang pakaian untuk menghidupi mereka. Ayahnya, JS gangguan penglihatan, sehingga ibunya yang menafkahi mereka. “Yang kami tahu anak itu sekolah di Jawa. Jadi kami tidak menyangka,” kata salah satu warga. vk12


