KUALA KURUN – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) menggelar ritual Harubuh Manugal di ladang Desa Upon Batu, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas. Kegiatan yang digelar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu, berlangsung selama 3 hari, dari Minggu (22/10/2023) hingga Selasa (24/10/2023).
Pada hari pertama, Minggu dilaksanakan sejumlah persiapan. Lalu pada lalu Senin, penyerahan babi, ayam, beras, dan bahan lainnya, dilanjutkan dengan Pendeng Upon Binyi. Selanjutnya pada Selasa, acara puncak yang dihadiri oleh Bupati Gunung Mas Jaya Samaya Monong beserta Istri, Mimie Mariatie Jaya Samaya Monong, Wakil Bupati Gunung Mas Efrensia LP Umbing beserta suami DK Mandharana, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Hansli Gonak, unsur Forkopimda, Kepala Perangkat Daerah, Camat, Lurah, serta masyarakat Desa Upon Batu dan tamu undangan lainnya.
Acara puncak diawali posesi ritual adat manawur, mampisik ganan petak, manimang binyi, mengambil benih lalu dilanjutkan dengan pelaksanaan manugal dan prosesi hajamuk, ditutup dengan foto bersama seluruh masyarakat dan tamu undangan.
Dalam sambutannya, Bupati Gumas menyampaikan, kegiatan Harubuh Manugal ini merupakan event yang dilaksanakan pertama kali oleh Kabupaten Gunung Mas melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Dalam pandangan saya, kegiatan Harubuh Manugal sangat positif dan masuk kepada kebudayaan daerah. Saya juga mengharapkan masyarakat Kabupaten Gunung Mas dapat melestarikan dan meneruskan kegiatan Harubuh Manugal menjadi event tahunan,” ucapnya.
Bupati mengharapkan masyarakat Kabupaten Gunung Mas bisa menjaga dan melestarikan tradisi suku dayak ini, yang merupakan cerminan kehidupan suku dayak yang harmonis, rukun dan saling membantu, serta bergotong royong dalam bekerja.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunung Mas Hansli Gonak menyampaikan, “Harubuh Manugal” ini merupakan salah satu implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Gunung Mas Nomor 6 Tahun 2022 tentang Kearifan Lokal dan Kebudayaan Daerah.
Pada pasal 28 mengatur terkait kegiatan berladang atau malan manana, sebagai bentuk dari Harubuh Manugal yang pengertiannya adalah malan atau berladang serta membuka lahan dan menanam padi dengan cara handep hapakat atau saling membantu dan bergotong royong. “Ini untuk membuktikan bahwa masyarakat bisa bersama- sama dan bersatu untuk satu tujuan,” ucapnya.
Ia menyebut kegiatan ini sebagai sarana promosi budaya dan pariwisata, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Gunung Mas, serta untuk meningkatkan kesejahteraan penghasilan melalui bercocok tanam. vk3


