TAMIANG LAYANG – Bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax ron 99 dan BBM bersubsidi Pertalite, menghilang dari Stasius Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Barito Timur (Bartim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Pantauan di sejumlah SPBU dan Pertashop di Kota Tamiang Layang, ibukota Bartim, terpasang papan bertuliskan “Pertamax kosong”. Tulisan kosong itu bertahan hampir sepekan ini.
Ironisnya, dalam dua hari terakhir, Pertalite di SPBU juga ikut kosong. Kekosongan ini memaksa warga membeli di eceran dengan harga yang sangat mahal. Pantauan pada Jumat (21/11/2025), harga Pertalite di eceran dijual warga dengan harga bervariasi, mulai Rp 15.000 per liter hingga Rp17.000 per liter. Adapun Pertamax dijual dengan harga sangat mahal, mencapai Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per liter.
Kondisi ini sangat dikeluhkan warga. Mobilitas mereka menjadi terganggu dengan kelangkaan BBM tersebut. Nita, salah seorang pegawai pemerintah, mengatakan bahwa penjual Pertamax tidak jauh dari rumahnya menjual dengan harga Rp 22rb per liter. “Di perempatan Matabu tadi saya isi Rp 22.000 (per liter) pak,” ujarnya saat dibincangi.
Salah satu pedagang BBM eceran, Bapak Firsa, mengatakan ia menjual Pertamax dengan harga Rp 20.000 per liter. Bapak Firsa bahkan membeli BBM ke Kalimantan Timur, sebab SPBU di Barito Timur tak ada Pertalite maupun Pertamax. “Pertalite susah pak. Ini saya usahakan untuk warga seputar sini aja, saya ambil Pertamax langsung dari Kaltim. Ini baru pulang subuh tadi,” bebernya.
Pantauan di Desa Jaweten, penjual BBM eceran menjual Pertamax dengan harga Rp25.000/liter. “Jaweten 25 (ribu), beli Pom 18 ribu, Pak,” ujar seorang warga, Elin, dalam percakapan di WA grup.
Warga berharap kelangkaan BBM segera terselesaikan selain itu, berharap pemerintah dapat kembali menormalkan harga BBM yang berangsur meroket tinggi dalam beberapa hari ini.
Area Manager Communications, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga, Edy Mangun, yang dihubungi wartawan voxkalteng.com via pesan Whatsapp sejak Rabu (19/11/2025), tidak memberi respons meski pesan terkirim sudah centang dua. (VK1)


