TAMIANG LAYANG – Kasus stunting di Kabupaten Barito Timur (Bartim) tahun 2023, mencapai 353 jiwa pada 221 Kepala Keluarga (KK). Angka ini berdasarkan data
elektonik pencatatan dan pelaporan Gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM).
Data stunting itu dipaparkan Penjabat (Pj)Bupati Barito Timur (Bartim) Indra Gunawan, saat melaporkan Capaian Kinerja Triwulan I Pemkab Bartim, di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), pekan lalu.
Kemendagri melakukan evaluasi kinerja Pj Bupati selama tiga bulan awal bertugas. Pj Bupati Bartim pada kesempatan itu dampingi Sekda dan 19 Pejabat Pimpinan Tinggi di Pemkab Bartim. Ada 10 parameter yang dilaporkan, salah satunya stunting.
Disampaikan, prevalensi stunting di Bartim 26,8% hasil Status Survey Gizi Indonesia (SSGI). Bartim berapa di peringkat 7 terendah stunting di Kalimantan Tengah (Kalteng). Dijelaskan, ada 2.860 KK di Bartim beresiko stunting. Sebanyak 92,27 dari jumlah itu telah dilakukan pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga.
“Untuk mencapai target penurunan angka stunting hingga 14 persen, Pemkab Bartim melakukan sejumlah upaya,” kata Pj Bupati. Upaya itu, mengoptimalkan TPK (Tim Pendamping Keluarga), perbaikan administrasi penaganan stunting, melibatkan berbagai unsur masyarakat dan TNI/POLRI juga private sector, mengajarkan kreasi Makanan Pendamping Asi (MPASI) dan mengoptimalkan peran OPD yang terlibat.
Stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak. Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak. (VK6)


